Pemuda Penentu Sejarah Bangsa

“Antara Sumpah Pemuda, Sumpah Serapah, hingga Sumpeh Lo?”

Sumpah pemuda, kami pemuda Indonesia bersumpah
Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan
Berbangsa satu, bangsa yang gandrung keadilan
Berbahasa satu, bahasa tanpa kemunafikan…


Memperingati 80 tahun ikrar sumpah pemuda dalam kontek kebangsaan saat ini haruslah berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika beberapa waktu yang lalu peringatan sumpah pemuda hanya sebatas ceremonial dan formalitas belaka, saat ini ghirah juang pemuda tahun 1928 haruslah benar-benar terinduksikan dalam jiwa para pemuda dan mampu diimplementasikan dalam kehidupan keseharian pemuda dalam menetukan arah perjalanan bangsanya. Sejatinya pemuda hari ini adalah pemimpin bangsa esok hari. Proses regenerasi kepemimpinan dalam alur kehidupan manusia adalah sesuatu yang tak mungkin dapat dinafikkan, kembali kepada pemuda sebagai calon penerusnya, sampai sejauh mana para pemuda telah mempersiapkan diri untuk menyongsong estafeta kepemimpin bangsa ini. Sudah seberapa banyak referensi hidup yang telah kaum muda kuasai sebagai “pemuda bangsa” flower generation pejuang perdamaian dunia? Demikian tanya seorang J.F Kennedy Presiden termuda dalam sejarah pemerintahan Amerika Serikat.

Sejarah telah mencatat dan membuktikan bahwa dipundak para pemuda-lah, Indonesia bangkit dan lahir menjadi suatu bangsa dan negara modern. Perjalanan kekinian dan masa depan sejarah bangsa akan sangat ditentukan oleh kiprah dan kepeloporan pemuda. Tidak diragukan lagi bahwa komponen pemuda dan kepemudaan di tanah air telah memberikan sumbangsih yang sangat besar, tak terbantahkan dan sungguh monumental. Terhitung sejak berdirinya pergerakan nasional Sarekat Dagang Islam 1905, Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 1945, hingga tegaknya Reformasi dan Demokratisasi bangsa dan negara Indonesia pasca 1998.

Perjalanan kesejarahan Indonesia dari masyarakatnya yang tradisional feodalistik, menjadi suatu bangsa dan negara modern yang demokratis, bersatu, merdeka dan berdaulat. Secara keseluruhan merupakan resultan dan akumulasi pengabdian, pergerakan dan perjuangan komponen pemuda dan kepemudaan Indonesia. Kredibilitas pemuda pada masa lalu sebagai ‘Sang Penentu’ arah perjalanan sejarah bangsa telah teruji tampil menghantar perubahan dan pembaharuan mendasar bagi rakyat. Belajar dari kiprah pemuda Indonesia pada masa yang lampau, tidak sepantasnya, pemuda masa sekarang berdiam diri bersikap pasrah tergerus arus hanya menjadi objek dan komoditas zaman belaka. Sudah saatnya segenap komponen dan potensi pemuda dimasa kini dan mendatang bangkit merajut pertalian sejarah menjadi insan penentu pergerakan, perjuangan perubahan dan pembaruan bagi kemaslahatan hidup rakyat, bangsa dan negara.

Founding father kita Soekarno dalam salah satu orasi kenegaraannya sempat mengatakan, berikan kepadaku sepuluh pemuda, maka akan aku bangun negeri ini. Hal ini mengindikasikan betapa pemuda memiliki peranan sangat dominan dalam menciptakan perubahan dan pembaharuan bangsanya. Dengan potensi besar yang dimiliki oleh pemuda, Bung Karno yakin Bangsa ini dapat mencapai puncak kejayaannya. Pemuda kita hari ini haruslah berani tampil kembali menjadi nahkoda penentu arah bangsa, banggalah menjadi pelaku sejarah yang cerdas memainkan peran kesejarahannya. Jangan pernah bangga menjadi penonton sejarah, apalagi menjadi korban dari ketidakbijakan sejarah, karena sejatinya hidup itu adalah sejarah. Hari ini adalah sejarah esok hari, dan esok hari adalah sejarah lusa nanti, begitu seterusnya tiada berkesudahan.

Memaknai Kembali Sumpah Pemuda

Peringatan 80 tahun peristiwa sumpah pemuda merupakan satu bentuk refleksi kritis anak bangsa untuk mengingat kembali tentang kesejatian kita sebagai pemuda Indonesia. Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita merupakan ikrar sakti yang tercetus pada tahun 1928 dari lisan para pemuda lintas suku, agama, ras dan antar golongan waktu itu. Satu wujud komitmen kebangsaan yang sangat fundamental. Makna sumpah pemuda dalam kontek kebangsaan saat ini, tentunya diharapkan tidak mengalami deviasi dan distorsi dari khittah awal di ikrarkannya sumpah ini. Satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa jangan diartikan sebagai suatu ikrar yang sempit, karenannya kita pemuda bangsa hari ini hendaknya melakukan re-interpretasi atas ikrar “penyatuan” pemuda pada tahun 1928. Persatuan pada masa modern ditandai bukan saja oleh faktor-faktor pemersatu yang merupakan kepunyaan bersama, seperti bahasa, adat istiadat dan sejarah, melainkan terutama oleh kemauan orang-orangnya untuk hidup bersama sebagai suatu bangsa yang merdeka, demikian ungkap M.Yamin, bapak bangsa kita.

Satu nusa, bukanlah berarti bahwa Indonesia adalah satu-satunya negeri di dunia ini, sehingga kita menutup mata atas keanekaragaman eksistensi negara-negara yang terpampang dalam peta dunia internasional. Indonesia adalah bagian dari satu galaksi global yang bernama planet bumi (Bima sakti-pen), beratus negeri dari kutub utara hingga kutub selatan bumi ini turut mewarnai perjalanan peradaban dunia. Peranan Indonesia untuk dunia internasional hendaklah menjadi salahsatu agenda utama pemerintah. Politik luar negeri yang bebas aktif idealnya dapat terimplementasikan dalam pergaulan internasional, namun kini negeri ini tengah disibukkan dengan beragam permasalahan internal kebangsaannya yang diawali dengan resesi ekonomi 1998 yang berujung pada krisis multi dimensi, hingga ancaman krisis financial global yang sewaktu-waktu dapat menerkam dan memporakporandakan kembali perekonomian kita untuk kesekian kalinya.

Satu bangsa, tidaklah berarti bahwa bangsa Indonesia adalah satu-satunya bangsa di muka bumi ini, sehingga kita menutup mata akan kepiawaian, kemajuan dan kebesaran bangsa lain dibelahan bumi ini dalam menciptakan peradabannya. Bangsa Indonesia harus pintar mentauladani kebesaran bangsa-bangsa yang ada di dunia ini, mempelajari keagungan budaya bangsa lain adalah bukan sesuatu yang tabu tentunya. Belajarlah dari sejarah bangsa-bangsa besar dunia, karena sejatinya sejarah adalah perilaku bijak kita dimasa yang akan datang. “Jas Merah” Jangan sekali-kali kita melupakan sejarah, demikian ucap Bung Karno. Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat belajar dari perjalanan sejarah bangsanya dan bangsa-bangsa diseluruh dunia.

Satu bahasa kita, bukan pula berarti bahwa bahasa Indonesia adalah satu-satunya bahasa yang ada di dunia ini. Berjuta bahasa dari berjuta suku bangsa turut mewarnai alur komunikasi dan menjadi perangkat terciptanya ilmu dan pengetahuan. Dengan bahasa, dunia menjadi nyata keindahannya, dengan bahasa pula peradaban tercipta. Barang siapa mampu menguasai beragam bahasa, maka ia akan mampu menguasai dunia. Bahasa adalah ilmu pengetahaun, bahasa adalah etika dan estetika bangsa, bahasa adalah kritik sosial, bahasa adalah simbol keagungan, dan bahasa akan mencerminkan kualitas bangsanya. Ras Anglo saxon di Eropa sana, mereka mampu menguasai dunia karena penyebaran bahasanya, bahasa Inggris merupakan bahasa pengantar pergaulan internasional, bahasa peradaban dunia dan bahasa ilmu pengetahuan. Selain sebagai sebuah prestasi, penguasaan bahasa asing juga merupakan sebuah prestise bagi orang yang menguasainya. Lantas bagaimana dengan bahasa Indonesia, sudahkah menjadi bahasa pengantar pergaulan internasional, sudahkah menjadi bahasa pengantar ilmu pengetahuan dunia?, anda sendiri yang berhak menilainya.

Makna sumpah pemuda dengan kata “satu”nya adalah bentuk pengukuhan dan sumpah setia segenap elemen bangsa bahwa hanya untuk “satu” Indonesia jiwa dan raga ini kita persembahkan. Negeri Indonesia tanpa diskriminasi, tanpa monopoli kesempatan, tanpa kemiskinan dan pengangguran, serta Indonesia tanpa praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam kultur birokrasinya. Sumpah merupakan itikad hati untuk memulai sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih baik dimasa yang akan datang. Pertanyaan berikutnya, mungkinkah semangat sumpah pemuda tahun ini dapat menjadi “solusi sakti” guna mengatasai krisis multi dimensi negeri ini?, ataukah nada sumpah pemuda masih satu irama dengan sumpah-sumpah para elit politik dan pejabat korup saat ini? Sehingga muncul sumpah serapah dari mulut masyarakat miskin yang merasa terdzhalimi hak-haknya oleh prilaku “nirca” para pemegang kebijakan. Kalaupun demikian yang terjadi, sungguh sia-sia perjuangan para pendiri bangsa ini, Sumpah Pemuda yang mereka kukuhkan tidak memiliki nilai bagi manusia-manusia yang berwatak Nasionalis-Imperialis. Nasionalis ucapannya, namun Imperialis perbuatannya untuk negeri ini. Untuk manusia tipikal seperti ini, rakyat akan mempertanyakan komitmennya tentang semangat sumpah pemuda; Sumpeh lo sudah paham Sumpah Pemuda?.

Tentang kesatuan Indonesia, Prof. Hamka mengatakan bahwa kesatuan kebangsaan Indonesia akan sangat bergantung pada daerah atau kesukuan itu, sesuai dengan logika yang mengatakan bahwa keseluruhan terdiri dari bagian-bagian; atau bagian-bagian membentuk keseluruhan. Hal ini mengandung makna bahwa keberagaman SARA yang terdapat dinegeri ini adalah potensi untuk dapat menciptakan suatu bangsa yang besar yang tidak hanya besar dalam pengertian kuantitas, namun besar dalam hal kualitas kebangsaannya. (wassalam)


Penulis : Ridwan Mubarak S.sos
(Mantan aktivis mahasiswa dan Pjs Presma BEM UIN SGD Bandung 2005, Mahasiswa S2 Prog.Ilmu dakwah dan Dosen muda UNPI Cianjur. Guru SMK Islamiyah Sayang)>

Title : Pemuda Penentu Sejarah Bangsa
Description : “Antara Sumpah Pemuda, Sumpah Serapah, hingga Sumpeh Lo?” Sumpah pemuda, kami pemuda Indonesia bersumpah Bertanah air satu, tanah air tan...

1 Response to "Pemuda Penentu Sejarah Bangsa"

  1. thats right!!! marilah kita menjadi pemuda yang cerdas dan berakhlak untuk memajukan negara ini.. semangat!!!

    ReplyDelete

Terimakasih sudah memberikan komentar pada tulisan saya :)
Mohon maaf, komentar spam dan menyematkan link tidak bermanfaat terpaksa saya hapus!

Semoga bermanfaat!